Banda Aceh - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan madrasah di Kota Banda Aceh. Tiga madrasah berhasil menempatkan tim risetnya dalam 30 besar tingkat nasional Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset Tahun 2026.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Dr H Salman SPd MAg, yang menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh siswa, pembimbing, dan keluarga besar madrasah yang telah mengharumkan nama Kota Banda Aceh di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur dan bangga. Tiga madrasah di Kota Banda Aceh berhasil masuk Top 30 OMI Riset tingkat nasional. Ini merupakan bukti bahwa madrasah kita memiliki potensi besar dalam bidang riset, inovasi, dan pengembangan gagasan yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Salman.
Tiga madrasah tersebut yakni MTsN 1 Model Banda Aceh, MAN 1 Banda Aceh, dan MAN 2 Banda Aceh, dengan karya riset yang mengangkat isu strategis, inovasi teknologi, kearifan lokal, hingga integrasi keislaman dan keilmuan.
Dari MTsN 1 Model Banda Aceh, tim yang terdiri atas Muhammad Daiyan Jalal Ifansyah (IX-2), Moehammad Zidan Ar-Rayyan (IX-2), dan Muhammad Yusuf Alfarabi (IX-10) mengusung penelitian berjudul “INONG TANGGUH: Pembelajaran Mendalam Berbasis Kearifan Lokal Aceh untuk Pemberdayaan Remaja Perempuan melalui Kesiapsiagaan Bencana.”
Karya yang berada pada bidang Sustainable Development Goals (SDGs) jenjang MTs tersebut dibimbing oleh Nurmahni Harahap, M.Pd. sebagai pembimbing pertama dan Halimatus Sakdiah Hasibuan, S.Pt. sebagai pembimbing kedua.
Sementara itu, MAN 1 Banda Aceh berhasil menembus Top 30 melalui karya “Mind-Visualizer Berbasis p5.js: Aplikasi Terapi Geometri Audio-Visual Interaktif untuk Mereduksi Tingkat Kecemasan Akademik Remaja” pada bidang Sustainable Development Goals (SDGs) jenjang Madrasah Aliyah.
Tim MAN 1 Banda Aceh terdiri atas Jihan Adila dan Wawa Annaisa Ridda, dengan bimbingan Siti Qobatiah SSi.
Adapun MAN 2 Banda Aceh tampil melalui penelitian berjudul “Evolusi Qanun: Dari Multaqa Al Azhar, Meukuta Alam, Hingga Qanun Aceh Modern”. Penelitian jenjang Madrasah Aliyah tersebut berada dalam ruang lingkup Ekoteologi (Integrasi Keislaman dan Keilmuan) dan dikerjakan oleh Afzalikha Kayla Qanitah dan Zahratul Mahfuzah.
Salman menilai keberhasilan ketiga madrasah tersebut menunjukkan bahwa peserta didik madrasah tidak hanya unggul dalam capaian akademik, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang kritis, kreatif, inovatif, dan memiliki keterkaitan dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Yang membanggakan adalah tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari kesiapsiagaan bencana berbasis kearifan lokal Aceh, pemanfaatan teknologi untuk mendukung kesehatan psikologis remaja, hingga kajian sejarah dan perkembangan qanun Aceh. Ini menunjukkan bahwa anak-anak madrasah mampu melihat persoalan dari berbagai perspektif dan menuangkannya dalam karya riset,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru pembimbing dan pihak madrasah yang terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi dan tradisi riset.
“Selamat kepada seluruh tim. Semoga capaian Top 30 ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan hasil terbaik pada tahapan selanjutnya. Mudah-mudahan prestasi ini juga menginspirasi madrasah lainnya di Kota Banda Aceh untuk semakin aktif membangun budaya riset dan inovasi,” pungkas Salman.
Dengan masuknya tiga madrasah dalam Top 30 OMI Riset 2026, Kementerian Agama Kota Banda Aceh berharap prestasi tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem madrasah yang unggul, inovatif, dan mampu melahirkan generasi yang memiliki daya pikir kritis serta kepedulian terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan. []