BANDA ACEH – Gelaran Banda Aceh Colossal Coffee Experience (BACCE) 2026 di Lapangan Blang Padang menjadi sorotan publik. Pasalnya, kegiatan yang berlangsung 18–20 September 2026 tersebut menggunakan anggaran APBD dengan pagu sekitar Rp2 miliar.
Berdasarkan dokumen tender yang diterima redaksi, paket Belanja Jasa Penyelenggaraan Acara – Banda Aceh Colossal berada di bawah Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh dengan nilai pagu/HPS Rp2 miliar. Dalam hasil tender yang terlihat, CV Aceh Kreatif Media tercatat sebagai pemenang dengan nilai penawaran sekitar Rp1,972 miliar.
Dengan nilai anggaran mendekati Rp2 miliar, pertanyaan publik kini bukan sekadar soal meriah atau tidaknya festival, tetapi apa manfaat nyata yang kembali kepada masyarakat.
Pemerintah menyebut BACCE melibatkan sekitar 120 UMKM, komunitas kopi, pelaku ekonomi kreatif serta berbagai agenda seperti coffee championship, workshop, parade coffee truck dan pertunjukan seni. Kegiatan ini juga disebut diproyeksikan menghadirkan puluhan ribu kunjungan dan transaksi ekonomi hingga sekitar Rp2,5 miliar.
Berapa omzet UMKM yang benar-benar meningkat? Berapa wisatawan luar daerah yang datang? Berapa transaksi ekonomi yang tercipta? Dan apa dampak berkelanjutan setelah festival berakhir?
Masyarakat juga berhak mengetahui komponen penggunaan anggaran hampir Rp2 miliar tersebut, mulai dari panggung, perlengkapan, promosi, pengisi acara, keamanan, dokumentasi hingga kebutuhan lainnya.
Sementara itu, munculnya nama CV Aceh Kreatif Media sebagai pemenang tender tidak serta-merta membuktikan adanya pola pemenang tender yang berulang. Jika ada dugaan perusahaan tertentu kerap memenangkan paket serupa, hal tersebut harus diuji melalui data tender sebelumnya.
Jika BACCE diklaim sebagai penggerak pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif, maka keberhasilannya seharusnya dapat diukur melalui data: peningkatan omzet pelaku usaha, jumlah wisatawan, transaksi ekonomi, promosi produk lokal dan dampak ekonomi setelah kegiatan.
Publik berhak mendapatkan penjelasan terbuka mengenai ke mana anggaran tersebut dibelanjakan dan apa hasil nyata yang kembali kepada masyarakat Banda Aceh.
Ada kalanya Pemerintah Kota Banda Aceh lebih fokus membenahi destinasi wisata yang terbengkalai dan memperbaiki fasilitas publik yang sudah ada, daripada terus menggelar berbagai event yang belum tentu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kecil.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah Kota Banda Aceh semestinya memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar berdampak bagi warga, khususnya pelaku UMKM yang bernotabene kali lima, pedagang kecil dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata, yang melainkan mengundang UMKM yang sudah tentu punya brand dan toko mewah, serta omset yang fantastis.