-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perjuangan Akhir H Salman di Hadapan Guru Besar UIN Ar-Raniry

Senin, 11 Mei 2026 | Mei 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-11T03:54:32Z
H. Salman Arifin berdiri gagah di hadapan guru besar berseragam toga merah. Mereka adalah penguji, yang akan mengupas tuntas karya ilmiah berjudul “Analisis Kebijakan Pemerintah Aceh dalam Pengembangan Profesionalisme Pendidikan Agama Islam” yang baru saja dirampungkan dan mendapatkan persetujuan sidang.

Bersamanya, sejumlah media pendukung terlihat jelas. Laptop bermerek terus menyala di podium tempat persentasi hasil penelitian. Makalah ringkasan disertasi tidak pernah lekang dari jemarinya. Pulpen dan buku kosong telah disiapkan untuk mencatat semua masukan dari para penguji. Ini semua menjadi bukti keseriusan Salman untuk mempertahankan apa yang dikajinya, sekaligus bukti ia layak mendapatkan gelar doktor di bidang pendidikan agama Islam.

Persentasi disertasi berlangsung alot. Sosok Salman yang kesehariannya kerap humoris membuat suasana sidang yang seharusnya menegangkan, justru jadi lebih ringan, seakan tiada beban. Sesekali, terselip kata humoris dari mulutnya yang membuat nuansa ruangan kian cair. Di balik gemuruh senyum yang terdengar dari audien dan penguji, Salman tetap mempertahankan pertemuan penting ini sebagai forum ilmiah, tempat menguji ketajaman analisa dan mempertanggungjawabkan penelitian.

Layaknya para doktor lain yang pernah berdiri di tempat yang sama ketika sidang promosi doktor, Salman menyampaikan persentasi disertasi dengan tetap mengedepankan konsep pemaparan karya ilmiah. Semua disampaikan degan baik dan dipahami publik.

Argumentasi yang diutarakan membuat penguji harus acung jempol, dan para tamu melangitkan tepuk tangan setiap kali promofendus mendapat pujian dari bapak dan ibu terhormat serta amat terpelajar itu.

Ayah empat anak ini dikenal bukan hanya sebagai akademisi, Salman juga merupakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, bahkan ini daerah ketujuh yang ia pimpin di level kabupaten kabupaten/kota. Rekam jejak itu makin menguatkan bahwa Salman memang sosok birokrat sejati dengan sejuta pengalaman. Perpaduan kapasitas intelektual dan kepemimpinan birokrasi ini tercermin dalam penampilannya yang meyakinkan tanpa ada bantahan serius.

Sejak awal, aura optimisme dan percaya diri terpancar dari kandidat doktor ke 359 Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini. Pemaparan yang sistematis, argumentasi yang tajam, serta penguasaan materi yang matang berhasil memukau para penguji dan hadirin. Tidak mengherankan, beberapa kali ruangan sidang bergemuruh oleh tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang dinilai luar biasa.

Salah satu promotor, Prof. T. Zulfikar, M.Ed harus mengakui kelebihan Salman. Guru besar ini memberikan kesan mendalam terhadap jalannya sidang. Ia mengungkapkan sidang promosi doktor kali ini menjadi salah satu yang paling istimewa dari segi dukungan yang hadir.

“Ini adalah sidang promosi doktor dengan jumlah pendukung terbanyak yang pernah saya saksikan. Antusiasme ini menunjukkan betapa besar dukungan dan kepercayaan terhadap kandidat,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

Salman dengan yakin menyebutkan bahwa ada teori baru pasca ketekunan, lelahnya meneliti, dan mengnalisa data, yang disebutnya novelty. Penelitian ini mengharuskan redefinisi profesionalisme guru PAI dari paradigma administratif menuju model profesionalisme substantif-religius berbasis kekhususan Aceh, yang mengintegrasikan dimensi pedagogik, spritual, sosial-keagamaan, dan legitimasi hukum daerah dalam satu kerangka konseptual.

Bukan hanya harapan promofendus, tapi para penguji dan tamu undangan benar-benar berharap Pemerintah Aceh mengadopsi dan mengembangkan hasil penelitian Salman, semata-mata untuk melahirkan guru Pendidikan Agama Islam yang profesional berbasis nilai keacehan, demi memaksimalkan pendidikan karakter bagi generasi Aceh.

Puncak haru terjadi di penghujung sidang, pasca Sekretaris Sidang, Dr Salahuddin membacakan berita acara kelulusan Salman dalam Sidang Promosi Doktor yang bernaung Rabu, 6 Mei 2026. Sejak detik itu, gelar doktor (Dr) resmi melekat pada namanya.

Setelah seluruh rangkaian proses akademik selesai, suasana berubah menjadi emosional ketika sang istri memberikan pelukan hangat—sebuah simbol dukungan, perjuangan, dan cinta yang menyertai perjalanan panjang menuju gelar doktor. Momen ini tidak hanya menyentuh keluarga, tetapi juga seluruh hadirin yang turut merasakan kebahagiaan tersebut.

Melihat antusiasme dan nilai inspiratif dari peristiwa ini, besar harapan agar momen berharga ini dapat diakses dan dipublikasikan secara luas oleh berbagai media, baik online maupun offline. Kehadiran media, khususnya media lokal seperti Serambi Indonesia, menjadi poin penting agar capaian akademik ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, terutama bagi pejabat yang memang memiliki padat kegiatan. Namun, Salman seakan ingin mematahkan anggapan pejabat tidak punya waktu luang sehingga bisa kuliah. Salman membuktikan tiada alasan bagi pejabat negara untuk tidak punya waktu belajar.

Sidang promosi doktor ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga cerminan semangat keilmuan, kepemimpinan, ketekunan, dan dedikasi yang patut diteladani. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan dunia pendidikan.
×
Berita Terbaru Update